Batman: White Knight, Politik Joker Mengkriminalkan Batman

Oleh: merak   |   April 06, 2019
Jika bicara soal kepahlawanan, tidak akan jauh-jauh kita akan bicara soal pengorbanan. Bukan bagian premisnya, tapi pengorbanan berupa kehancuran di tengah kota selalu terjadi ketika si pahlawan mencoba mengalahkan si penjahat.

Ultraman jungkir balik di tengah kota, Hulk melempar mobil, Superman terpental ke gedung pencakar langit, dan sebagainya. Dengan status pahlawannya, mereka tidak mendapat kecaman dari masyarakat atas kehancuran yang diakibatkan. Mereka justru mendapat ucapan terima kasih, dimintai tanda tangan, diajak berfoto, atau untuk beberapa pahlawan, mereka dapat pasangan.

Lalu bagaimana jika mereka adalah vigilante? melawan kejahatan tapi juga dianggap sebagai kriminal. Dikecam dan diburu polisi meskipun si penjahat berhasil ditangkap. Itulah premis yang ditawarkan dalam Batman: White Knight, meski bukan yang utama.

Joker yang sudah sembuh dari kegilaannya berkat obat yang dihajar habis-habisan ke dalam mulutnya oleh Batman, bersaksi di depan pengadilan dan menyalahkan Batman serta GCPD (kepolisian Gotham) atas kegilaan yang membuat dirinya menjadi Joker serta semua yang diakibatkannya.
Batman: White Knight, Politik Joker Mengkriminalkan Batman - MERAK
Aksi brutal Batman memasukkan banyak pil ke dalam mulut Joker sebelumnya terekam video dan membuat publik mulai mempertanyakan metodenya tersebut, sementara kepolisian yang terlihat acuh saja di tempat kejadian juga dianggap tidak melakukan tugasnya dengan baik untuk mecegah kebrutalan tersebut.
Batman: White Knight, Politik Joker Mengkriminalkan Batman - MERAK
Dari sini politik menjadi senjata yang dipakai melawan Batman, dimana Joker yang sudah waras – kini ingin dipanggil dengan nama aslinya Jack Napier – berusaha meyakinkan penduduk Gotham kalau Batman harus ditangkap. Batman yang tidak pernah tampil secara publik atau memberikan pernyataan secara umum tentu saja tidak bisa melawan Jack dalam hal ini.

How would Batman possibly defend himself? Like what is he gonna do, tweet back to Joker?” kata Sean Gordon Murphy, penulis sekaligus ilustrator dari komik ini dalam sebuah acara. Murphy mengaku tidak banyak membaca komik, bahkan cerita Batman saja lebih banyak dia dapatkan dari seri animasinya daripada komik. Meski begitu ia memiliki ketertarikan dalam politik dan menjadikannya topik yang suka ia diskusikan.

Sebagai penulis, dia selalu ingin bisa membawakan topik politik yang rumit dengan cara yang seru agar pembacanya tidak bosan dan di White Knight dia melakukannya dengan mencoba melibatkan hampir semua pihak di kota Gotham, supaya ceritanya tidak berkesan memihak ke salah satu sisi saja. “There’s a lot of comics that are very political right now and one worry I had was being one of those.” katanya.

Politik sendiri banyak diselipkan pada issue #1 dan #2 dari 8 seri ini. Beberapa dia selipkan sebagai pendukung cerita, seperti karakter Duke Thomas dan warga Backport yang merepresentasikan Black Lives Matter (gerakan sosial yang melawan kekerasan dan rasisme terhadap orang berkulit hitam), atatu si dua pembawa acara: satu wanita kulit hitam, satu pria kulit putih, yang satu lebih liberal, dan satu lagi lebih konservatif. Ia sengaja melakukannya karna memang ingin memasukan isu-isu yang menurutnya mulai jarang dibicarakan di media, termasuk soal gun control.

Dalam komik sendiri Jack mulai mencari dukungan dengan membantu warga miskin di Backport, kawasan kumuh yang sudah ditidakpedulikan oleh kepolisian dan kerap kena imbas kerusakan dari aksi-aksi Batman. Lebih lanjut Murphy menjelaskan sosok Jack sebagai politikus disini: “He wants to represent the middle and lower class who are unrepresented, who don’t have enough resources.

Berkat kemampuan beretorikanya serta beberapa trik kotor, Jack berhasil meyakinkan warga Gotham, kepolisian, bahkan dua sidekick Batman: Batgirl dan Nightwing, untuk menangkap Batman. Yang menarik disini adalah Jack membiarkan Batman dengan kostumnya dan tidak memaksanya untuk mengungkap identitas aslinya. Dia setuju dengan Nightwing bahwa masalah di Gotham adalah sosok Batman, bukan pria dibalik kostum tersebut.

Hal ini merupakan cerminan dari dirinya sendiri. Jack tidak mau disalahkan atas kekacauan yang diakibatkan oleh Joker meskipun mereka adalah orang yang sama.
Batman: White Knight, Politik Joker Mengkriminalkan Batman - MERAK
Pada akhirnya kisah ini menjadi bukti lain dari simbiosis-kepahlawan antara Batman dan Joker. Salah satunya ada untuk mendukung eksistensi yang lainnya. Batman punya batas yang mecegahnya membunuh Joker dan cukup pintar untuk memikirkan: “Kalo Joker mati, pasti nanti ada penggantinya yang lebih parah.” Dan Joker memainkan perannya sebagai sesuatu yang tiap pahlawan butuhkan: musuh.

Antara Batman-Joker kita mendapatkan relasi antara pahlawan dan penjahat yang membuat orang-orang membenci Joker dan membutuhkan Batman, dengan Bruce-Joker kita melihat siasat Bruce berpura-pura lemah dihadapan Joker untuk menyembunyikan identitas rahasianya.

Tapi antara Batman-Jack di cerita ini, kita melihat pelanggar hukum dan penegak hukum yang membuat kisah ini bukan soal kepahlawanan lagi, melainkan seorang politikus nasionalis-realistis melawan seorang vigilante. Yang satu mendapat dukungan masyarakat karna mencoba menegakan hukum dan satu lagi dibutuhkan masyarakat karna menjadi pemberantas kejahatan meski melanggar hukum.

Atau jika dilihat dari perspektif lain, sebenarnya keduanya adalah pahlawan bagi sebagian masyarakat di Gotham, membuat keduanya seakan dua pahlawan yang sedang bertarung memperebutkan dukungan. Di sini status keduanya menjadi abu-abu dan masyarakat terpecah untuk berpihak pada siapa pahlawan sebenarnya, semacam ‘choose your candidate for the better of Gotham!’. Terdengar seperti politik?

Lalu bagaiman dengan relasi yang mungkin terjadi antara Bruce dan Jack? Jika mereka untuk sementara waktu melepaskan riasan mereka dan menjadi warga Gotham yang baik. Jawabannya terserah penulis yang beruntung untuk menuliskan cerita mereka, tapi yang jelas mereka bukan kawan yang baik.


Tampilkan Komentar