Dunning-Kruger Effect dan Kenapa Kita Punya Teman yang Sok Tau

Oleh: merak   |   Februari 05, 2019
Punya temen yang suka nimbrung di semua obrolan, dan tiba-tiba mengutarakan pendapatnya sambil menegaskan pendapat yang lain itu salah?

Temen yang udah melotot buat maksain pendapatnya, tapi pas dibuktiin salah malah senyam-senyum dan bilang 'hehe becanda'.

Atau temen yang suka ngatain orang lain tolol padahal dia sendiri juga tolol?

Selamat, berarti kamu pernah bercengkrama dengan fenomena bernama Dunning-Kruger Effect.
Dunning-Kruger Effect: Kenapa Kita Semua Punya Temen yang Sok Tau?
Istilahnya diambil dari nama dua psikolog yang melakukan eksperimen terkait fenomena ini, yaitu David Dunning dan Justin Kruger, yang diterbitkan pada Desember 1999 dalam edisi ke-77 Journal of Personality and Social Psychology dengan judul: Unskilled and Unaware of It: How Difficulties in Recognizing One's Own Incompetence Lead to Inflated Self-Assessments.

Singkatnya, istilah Dunning-Kruger Effect digunakan untuk menggambarkan keadaan dimana seseorang menilai kemampuan mereka terlalu berlebihan, sehingga merasa dirinya sendiri lebih baik dari orang lain.

Fenomena ini umumnya terjadi pada orang-orang yang berpengetahuan sempit, yang entah bagaimana, justru membuat rasa percaya diri mereka makin besar.

Di salah satu eksperimennya pada 1999, Dunning-Kruger membuat beragam istilah-istilah buatan (baca: palsu) mengenai berbagai bidang ilmu pengetahuan (politik, geografi, fisika, dll.) dan kemudian bertanya kepada tiap peserta tes apa yang mereka ketahui mengenai istilah-istilah palsu tersebut. Nah lucunya, 90% dari peserta tes tersebut mengaku mengetahui beberapa hal mengenai istilah-istilah itu, yang padahal baru saja diciptakan saat itu.

Sebaliknya, Dunning-Kruger berpendapat bahwa orang-orang yang memang lebih ahli, atau setidaknya berpengetahuan lebih luas, lebih cenderung meremehkan kemampuan mereka sendiri. Aneh, tapi memang benar.

Dunning-Kruger Effect: Kenapa Kita Semua Punya Temen yang Sok Tau?
Unskilled and Unaware of It: How Difficulties in Recognizing One's Own Incompetence Lead to Inflated Self-Assessments (1999)
Setidaknya pendapat ini sama dengan pendapat orang-orang hebat lainnya sejak ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu;

The more I learn, the more I realize how much I don't know.
Albert Einstein (1879-1955)

Ignorance more frequently begets confidence than does knowledge.
Charles Darwin (1809-1882)

The fool thinks himself to be wise, while a wise man knows himself to be a fool.
William Shakespeare (1564-1616)

The more you know, the more you know you don't know.
Aristoteles (384-322 SM)

Dalam riset yang sama juga disebutkan, bahwa orang-orang yang tak berkompeten ini tidak hanya payah dalam menilai kemampuan mereka sendiri, tapi juga payah dalam menilai dan mengakui kemampuan orang lain, yang mana menjadi alasan kenapa mereka merasa lebih baik, mampu, dan pintar dari orang lain.

Satu lagi, orang-orang macam ini juga ternyata memang payah soal humor dan lelucon, baik dalam menanggapi atau membuatnya. Makanya mereka biasanya adalah orang-orang yang garing. Saking garingnya sampai lelucon mereka itu bisa diibaratkan menjadi mantra yang mengisi hati orang-orang yang mendengarnya dengan amarah dan kebencian. Dan saya bahkan tidak melebih-lebihkan.

Tapi, yaaa, bagaimanapun juga Dunning-Kruger Effect bukan hal yang perlu dibenci atau ditakutkan. Tidak ada manusia yang mengetahui dan ahli dalam segala hal, yang berarti tiap manusia berpotensi menjadi sotoy karna ketidaktahuannya itu. Bahkan influencer atau pesohor yang sering kita tonton di tv dan internet pun, saya pikir, adalah contoh betapa wajarnya fenomena ini.

Sebenarnya hal ini cukup seru untuk dijadikan hiburan. Seperti dalam kisah fiksi Don Quixote yang ngotot memaksa orang lain untuk percaya bahwa dirinya adalah ksatria hebat terhormat, atau orang tua di dunia barat sana yang merasa lebih pintar dari sarjana kesehatan soal vaksin, atau favorit saya: penganut bumi datar yang menolak sains modern karna mereka merasa lebih 'pintar'.

Referensi tulisan ini berasal dari Verywell Mind dan Dean Yeong, yang bersumber dari jurnal milik Dunning-Kruger.

Tampilkan Komentar