Senang dan Bahagia Karna Nostalgia

Oleh: merak   |   Januari 10, 2019
Waktu kumpul-kumpul, salah satu teman saya ada yang iseng muterin lagu “I Heart You” dari ponselnya, lagu keramat yang bikin banyak anak SD jadi alay. Ada yang protes, tapi ada juga yang senang, sementara saya agak ketawa pas denger tiga nada pembuka lagu tersebut–yang sangat khas–terdengar. Lagu itu benar-benar menyambungkan banyak nostalgia lama yang sangat menyenangkan, dalam definisi saya sendiri.

Padahal, mengutip Tirto, pada 1688 nostalgia pernah dikategorikan sebagai suata penyakit, dalam kategori yang sama dengan penyakit demam, bahkan dianggap fatal. Johannes Hofer, orang yang pertama kali mencetuskan istilah tersebut, menemukannya ketika ia sedang merawat tentara Swiss yang cidera di Perancis. Kala itu, nostalgia dianggap sebagai depresi yang menyerang mereka yang sedang merindukan rumah atau kampung halamannya.

Ada alasan kenapa nostalgia sempat dikategorikan sebagai bentuk depresi. Kadang, kenangan membahagiakan saat kecil–atau kenangan lampau lainnya–yang udah ga bisa kita rasakan lagi saat ini, dapat menimbulkan depresi. Semacam dulu kecil cuman main, berantem yang cuman ngatain dan besoknya baikan, ketawa seenaknya, dan pilihan paling sulit hanya ketika memutuskan Power Ranger mana yang jadi jagoan saya. Sangat sederhana dibandingkan segala-sesuatu-tentang-kedewasaan.

Jadi sebenarnya, apa nostalgia itu baik?

Iya dan engga juga sih.

Ahli nostalgia (iya beneran ada)

“Nostalgia adalah suatu hal yang sangat kuat,” kata Jamie Hoelscher, seorang analisis perilaku dan emosi manusia, “dan sesuatu yang sangat kuat bisa digunakan untuk yang baik maupun buruk,” lanjutnya menjawab pertanyaan tentang nostalgia di internet.

“Nostalgia membuat kita gagal paham saat menghadapi masalah” isi salah satu dari tiga poin yang dinyatakan Hoelscher dalam halaman tersebut. Menurutnya, kadang kita suka membandingkan keadaan kita yang sekarang dengan yang dulu ketika menghadapi masalah, entah sulit atau mudah.

Mungkin yang paling umum, ketika (hampir) semua orang sering mengeluh betapa hidup jauh lebih mudah ketika masih anak-anak dibandingkan kehidupan dewasa, atau ketika seorang anak SMA yang memandangi soal matematika dan menyadari ternyata matematika sudah jauh berubah dibandingkan ketika pertama kali diperkenalkan saat TK. Yang seperti inilah, menurut Hoelscher, yang membuat nostalgia berkesan buruk. Membuat kita melihat masalah dari sudut yang salah.

Meski begitu, nostalgia juga sudah terbukti ampuh untuk melawan kebosanan saat sendirian, membuat kita menjadi lebih baik terhadap orang asing dan menghargai mereka, bahkan dikatakan bahwa pasangan yang suka berbagi nostalgia bersama akan merasa lebih bahagia.

Diawal saya bilang lagu "I Heart You" banyak membuat anak SD menjadi alay, itu benar dan saya salah satunya. Saya ingat pernah loncat-loncatan di kasur sambil menggunakan earphone mendengarkan lagu ini, pernah juga nyanyi bareng dengan teman saya pas perjalanan menggunakan bis, dan rebutan remot tv buat nonton sinetron berdasarkan lagu itu. Pengalaman yang menyenangkan boleh saya bilang.

Para psikolog dari dari University of Southampton sudah lama mempelajari fenomena nostalgia. Mereka menemukan bahwa nostalgia adalah hal sangat umum terjadi, bahkan untuk anak berusi 7 tahun yang suka mengingat kembali masa liburan atau ulang tahunnya.

Salah satu psikolog tersebut adalah Dr. Constantine Sedikides. Dia punya anggapan unik soal Odysseus, seorang keturunan dewa dari mitologi Yunani. Dr. Sedikides menganggap Odysseus sebagai manusia pertama yang bisa menggunakan nostalgia dengan baik. Odysseus menggunakan ingatannya akan istri dan anaknya untuk melewati masa-masa sulit selama mengembara.

“Nostalgia biasanya dimulai dengan beberapa masalah yang buruk, tapi kemudian cenderung berakhir dengan baik berkat bantuan orang terdekat,” katanya, “sehingga pada akhirnya kita memiliki perasaan yang lebih kuat dan bersikap lebih baik terhadap orang lain.”

Saya menginterpretasikan pendapatnya tersebut menjadi: nostalgia, jika dilihat dengan cara yang baik, dapat membuat kita berpikir lebih bijak dan bersikap lebih baik. Entah itu nostalgia mengenai kejadian yang menyenangkan, menyebalkan, atau bahkan mengerikan, selalu ada saja hal yang bisa kita ambil dan jadikan pelajaran untuk masa selanjutnya.
Senang dan Bahagia Karna Nostalgia - MERAK
Kembali ke awal lagi.

Setelah saya pulang dari kumpul-kumpul tersebut, saya teringat sesuatu. Jadi ketika sampai di rumah, saya langsung menuju dan menutup diri di kamar, membuka ponsel, dan menonton salah satu episode dari serial “My Heart the Series” di Youtube. Saya sedikit tertawa pas nyanyian Acha Septriasa mengawali video tersebut.

Pada akhirnya, ini mengajarkan bahwa kenangan alay saya zaman dulu, merupakan sebuah guilty pleasure untuk masa sekarang.


“Nostalgia membuat kita sedikit lebih manusiawi.”
-Dr. Constantine Sedikides

Informasi di tulisan ini saya ambil dari Tirto, Beritagar, The New York Times, Elite Daily, sampai Quora, dan Tirto lagi.


Tampilkan Komentar